CATATAN SOSIALISASI PENANGGULANGAN RADIKALISM

CATATAN SOSIALISASI PENANGGULANGAN RADIKALISM

Minggu, 17 November 2019, 21.34

NURUDIN, Wakil Sekretaris PC.NU Kabupaten Tulungagung

CATATAN SOSIALISASI PENANGGULANGAN RADIKALISM
Oleh : Nuruddin

Malangguide.com - Diacara sosialisasi penanggulangan radikalisme dan terorisme yang diselenggarakan Kesbangpol Tulungagung bersama Ormas, OKP, Kepolisian dan TNI berjumlah 200 hadirin dengan latar belakang yang beragam, sedikit catatan yang mampu saya kumpulkan dari apa yang disampaikan para pemateri, khusunya terkait ciri-ciri Paham Radikal.(Senin, 11 November 2019)
          Bentuk Islam radikal bisa bermacam-macam,  adakalanya tampak dalam tampilan fisik maupun dalam tampilan amaliyah sehari-hari. Diantara ciri Islam radikal dari hasil simpulan yang saya catat adalah:

       1. Tidak Mengenal Perbedaan
Kelompok radikal cenderung membuat segala urusan beragama menjadi satu identitas yang sama, sehingga tidak mengenal khilafiyah atau perbedaan. Jadi kalau ada yang berbeda, maka harus disamakan, atau berhadap-hadapan.
      2. Berlebihan dan Bias
Segala sesuatu selalu disangkut pautkan dengan dosa serta mereka yang melakukan dosa besar dianggap kafir. Mereka tidak mengenal dosa  yang bisa hilang dengan maghfirah Allah SWT. Mereka juga tak mengenal istilah dosa kecil.
       3. Eksklusif
Eklusifitas sengaja dibangun dalam kerangka membedakan kelompoknya atau bukan. Seolah-olah eklusifitas ini sebagai wujud memurnikan diri dalam mengamalkan al qur'an dan Hadist.
       4. Rajin Beramal
Apa yang dilakukan oleh mereka yang terpapar radikal tidak semua negatif, para korban paham radikal umumnya lebih rajin mengamalkan sisi-sisi agama. Bukan berarti mereka yang terpapar radikal tidak ada sisi positifnya, tetap ada walaupun kecil
Rajin shalat berjamaah, rutin tilawah, aktif qiyamul lail, hadir di banyak kajian, jidadnya semakin menghitam, celananya congklang, yang perempuan kadang bercadar dan gayanya ke arab-araban.
         Kalau memanggil sesama sering memakai Ana, antum, akhi, ukthi, ikhwan, akhwat, syafakallah, syukran, afwan dan seterusnya.
       Apakah semuanya tidak boleh? Boleh saja, mau ke arab-araban, mau cadaran, Monggo, tapi jangan menyalahkan yang tidak ngarab dan tidak sama dengan anda. Jangan pula merasa diri paling suci, paling benar, paling dekat dengan Tuhan, lalu mengejek, melecehkan, merendahkan bahkan membuli orang yang tidak seperti dirinya.
Mau cingkrang itu silahkan saja. Tapi kalau saudaranya muslim yang tidak cingkrang lantas dimaki-maki, dikatain fasik, berdosa, dan masuk neraka, tentu jadi over dan kurang dapat simpati.
          Begitu juga orang cadaran, silahkan saja. Tapi kalau cadaran ya jangan rajin membuly saudarinya yang tidak bercadar, tentu jadi tidak bijak.
       Shalat jamaah di masjid 5 waktu tentu baik dan dapat 27 derajat. Tapi kalau tetangganya yang tidak berjamah lantas divonis munafik 100%, tambah gelar fasik, tidak beriman, tentu kurang tepat.Sebab yang mewajibkan memang ada, tapi yang tidak mewajibkan juga ada dasarnya.
       5. Memusuhi Kafir
Islam radikal tidak mengenal konsep pembagian kafir menjadi dua (harbi dan dzimmi). Konsep mereka semua orang kafir itu harbi, musuh agama, harus diperangi, halal harta dan nyawanya.
       Semua ayat yang isinya tentang berbuat baik kepada orang kafir dianggap mansukh (sudah diganti dengan hukum baru), yang berlaku bagi kelompok mereka adalah ayat jihad, qital dan perintah bunuh semua orang kafir.
      Orang tua Nabi Muhammad SAW  juga selalu disebut-sebut kekafirannya. Padahal orang tua kanjeng nabi Muhammad hidup di masa fatrah, ketiadaan risalah.
        Padahal para shahabat yang hidup semasa dengan kanjeng Nabi, malah tidak pernah mengungkit-ungkit masalah kekafiran orang tua Nabi Muhammad SAW karena khawatir akan menyinggung dan  menyakitkan hati beliau Rosulillah Muhammad SAW.
Mudah terbakar urusan beda agama, kadang sampai terjadi kerusuhan, pembakaran rumah ibadah bahkan sampai menghalalkan penjarahan dan pembunuhan.
       6. Kultus Individu
Ini ciri yang selalu melekat, yaitu sangat mengkultuskan tokoh kelompok mereka sendiri. Kadang posisinya lebih dari makshum, nyaris tidak pernah salah. Tapi sebaliknya, mereka menghina ulama-ulama yang bukan dari kelompoknya
        7. Gemar Bermusuhan
Ciri yang sering ditemukan dari mereka yang terpapar  radikal adalah sikap beragama yang gemar bermusuhan, cenderung menyalahkan semua orang, bahkan rajin menyerang siapa pun yang tidak sejalan dengan pemikirannya.
Mudah memvonis kafir, fasik, munafiq, jahiliyah karena sebab sepele, atau setidaknya rajin membuat postingan nyinyir kepada kelompok yang tak sama dengannya.
       8. Dangkal Ilmu Tapi Semangat Beragama Luar Biasa
Bersembunyi dibalik pemahaman tekstual "Ballighu 'anni Wa lau Ayat" Sampaikan pengetahuan dari Tuhanmu, walau hanya sekedar satu ayat". Memang betul dakwah mengajak kepada orang lain itu baik, tapi ya jangan lantas lupa kalau posisi masih punya pemahaman sedikit, ya harus belajar lagi.
      Sering juga ditemukan, orang-orang yang tidak terlalu punya dasar-dasar ilmu keislaman dan ilmu syariah yang mumpuni, namun semangatnya berlebih untuk menerapkan syariat.
         Namun di balik kelemahan keilmuannya, dia tutupi dengan semangat mengaplikasikan agama dengan membara. Kesannya jadi kayak orang Sholeh dan 'Alim, padahal ilmunya dangkal dan terbatas.
         Makanya yang terkena paham ini biasanya kalangan yang awam dengan agama, yang baru saja punya kesadaran dan nilai-nilainya secara instan.
      9. Tidak Punya Rujukan Keilmuan Berstandar
Biasa berdalih dengan memanfaatkan petikan ayat Al-Quran atau potongan hadits terjemahan yang diputar balik maknanya dan diplintir sekenanya, demi kepentingan bisa mendukung opininya. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya teknik berdalilnya terlalu rapuh, lemah dan tidak tepat.
          Ayat Quran dan Hadits hanya dijadikan alibi membodohi orang awam secara harfiyah dan tekstual. Seolah terkesan alim dan mengerti secara mendalam, padahal tidak pernah bisa merujuk kepada kitab tafsir atau syarah hadits.
     10. Emosional dan Delusif
Cenderung bersikap emosional, mudah marah, gampang benci, rajin curiga, phobia, dan nyaris mirip psikopat.
      Dalam delusinya, umat Islam saat ini dalam keadaan genting, lagi dikepung  sekularisme, liberalisme, bid'ah, tahayyul, churafat, atau diibaratkan Islam sedang dikepung oleh sekawanan hewan buas dan lapar, yang siap menyerang dari segala penjuru.
         Keyakinan atau kenyataan semu macam ini diyakini terus menerus meskipun bukti dan kenyataannya berlawanan.
         Salah satunya lewat indoktrinasi menggunakan hadits nabawi yang bercerita keadaan umat di akhir zaman. Dikepung dan dikerubuti oleh musuhnya. Sehingga terkesan jadi sangat dramatis, heroik dan bombastis.
   Padahal kenyataannya dimana-mana Islam bebas diamalkan, diajarkan dan didakwahkan. Tidak segenting yang dikesankan.
Korbannya siapa lagi kalau bukan aktifis pemula yang lagi terbakar ghirah dakwahnya?

TerPopuler